Menikah Bukan Ajang Perlombaan, Lakukan di Waktu Tepat dan saat Kamu Sudah Siap

Mei 18, 2022


Belum memiliki pasangan dan menikah di usia yang sudah seharusnya memang sering kali menimbulkan dilema. Memang kamu merasa baik -baik aja, tapi enggak untuk orang di sekitarmu. Dengan alasan sudah saatnya, sudah umurnya untuk memikirkan rumah tangga, kamu akan dijejali dengan pertanyaan 'kapan nikah'? Dan pertanyaan itu akan berulang setiap harinya. Apapun alasanmu, orang nggak akan peduli. Karena sudah dilakukan oleh banyak orang di dunia, sebelum kamu pastinya. Saat ini, kamu diharuskan untuk melakukannya juga.

Kamu yang masih betah sendiri diam-diam dianggap perawan tua, nggak laku, dan nggak bahagia. Seolah-olah dan seakan-akan seluruh pencapaian yang kamu punya nggak berharga hanya karena kamu belum menikah di usia yang seharusnya. Padahal kan nggak harus begitu. 

Kamu pasti paham bahwa pernikahan bukanlah hal yang bisa dijalani hanya karena omongan orang.

Pernikahan bukan sekadar hidup berdua dengan pasangan

Pernikahan bukan cuma soal kamu dan dia. Ada konsekuensi sosial di baliknya, karena kamu menikahi sebuah keluarga bukan hanya satu orang. Jadi, saat kamu sepakat menikah, artinya kamu dan dia sepakat untuk mengendarai perahu berdua. Kamu nggak bisa lagi mengarahkan perahumu sesuka hati, karena ada orang lain di sana yang mungkin kehendaknya berbeda. Kamu dan dia akan belajar untuk membuat kesepakatan-kesepakatan agar perahumu tetap tegak berdiri meski diterpa angin dan ombak. 

Pernikahan memberi sekaligus mengambil banyak hal

Memang benar pernikahan itu memberimu satu kaki penopang. Kamu yang selama ini menjalani hidupmu sendiri, menanggung dan memecahkan masalah sendiri, kini memiliki seseorang untuk bersandar dan membantu menanggung beban. Selain itu, pernikahan juga memberimu satu tujuan hidup yang jelas. Tapi diakui atau nggak, pernikahan juga mengambil banyak hal darimu. Pertama adalah kebebasanmu. Kamu nggak bisa lagi pergi ke sana dan kemari sesuka hati. Dan kedua, kamu nggak bisa lagi melakukan dan memutuskan segala-galanya sendiri. Akan banyak kompromi yang harus kamu jalani. Ego dalam dirimu, mau nggak mau harus dikurangi.

Menikah bukan cuma soal keturunan, tapi juga kebahagiaan

Sering kali usia produktif dijadikan alasan untuk menikah. Terutama untuk kaum perempuan, yang memang produktivitasnya terbatas. Semakin tua, semakin sulit untuk mendapat keturunan. Memang betul salah satu tujuan dari pernikahan adalah untuk regenerasi keturunan. Tapi keturunan bukan satu-satunya tujuan pernikahan bukan? Sedang untuk menjadi orang tua yang baik untuk keturunanmu, mentalmu sendiri haruslah sudah mapan. Maka dari itu, kebahagiaan dalam pernikahan juga nggak kalah penting.

Jangan sampai kamu melakukannya karena omongan orang

Saat teman-teman seumuranmu sudah menikah, sering kali pertanyaan "kamu kapan? Apalagi yang kamu tunggu? Apa nunggu tua dulu baru mau memikirkan soal itu? Apa kamu tidak takut dianggap tidak laku?" Pertanyaan-pertanyaan itu akhirnya sering kamu pikirkan. Tapi sebenarnya itu salah. Semakin kamu pikirkan, omongan orang semakin kejam. Karena itu, mengabaikannya adalah jalan yang paling masuk akal. 

Boleh aja sih kamu menjadikan saran dari orang sebagai pertimbangan. Tapi jangan menjadikannya sebagai alasan untuk menikah. Karena hidupmu, kamu sendiri yang menjalani. Bahagia atau menderita, kamu sendiri yang rasakan. Mereka hanya melihat dari luar. Apa yang terjadi nantinya di dalam, mereka nggak tahu. Dan mungkin mereka nggak akan peduli.

Belum siap sekarang bukan berarti kamu kalah, karena pernikahan bukan perlombaan

Mungkin kamu lelah dengan komentar “Dia yang lebih muda darimu aja udah berani berkomitmen. Kamu yang sudah tua, masa nggak berani?”. Seolah-olah di sini komitmen adalah soal usia. Padahalkan komitmen soal kesiapan hati. 

Usia boleh udah tinggi, tapi soal keberanian mengambil komitmen belum tentu mengikuti. Bukankah lebih baik menunggu sampai saat yang tepat datang sehingga semuanya sudah matang, daripada begitu tergesa-gesa dan menyerah di tengah jalan?

Ingat! Setiap orang punya hidupnya masing-masing. Mereka bisa berkomentar ini itu tentang hidupmu, tapi mereka punya hidupnya sendiri untuk dijalani. Kamu nggak harus selalu mendengarkan mereka, karena hidupmu itu, cuma kamu sendiri yang tahu. 

Mereka menuntut ini dan itu, tapi mereka nggak melihat realitamu. Wajar saja, karena realita setiap orang bisa berbeda. Meski hidup sendirian terlihat sepi dan menyedihkan, tapi belum tentu kamu lebih nggak bahagia daripada mereka yang hidup berdua. So, biarin aja orang mau bilang apa. Menikahlah di waktu yang tepat dan saat kamu sudah siap, sebab pernikahan itu bukan perlombaan.

You Might Also Like

0 komentar

Ads Here

Sidebar Ads

Like us on Facebook

Follow Instagram